Rabu, 14 Oktober 2015

Budaya Menulis



“Budaya” Tulis, Sudahkah Jadi “Budaya” Kita? 
Oleh : Khumaidullah Irfan



 “Yang tertulis akan tetap mengabadi dan yang terucap akan berlalu seperti angin...”

            Lima bulan yang lalu, di sebuah acara di Indramayu, saya bertemu dan mulai berbincang dengan seorang yang pernah ikut menjadi aktivis 98. Di usianya yang belum bisa dikatakan tua dan tak pantas lagi disebut muda itu, ia masih saja berteriak lawan. Bahkan ia tak lelah untuk terus-menerus memprovokasi mereka, para generasi muda seperti saya, untuk selalu menempuh garis perjuangan. Mempunyai rasa keberpihakan terhadap massa rakyat yang tertindas. Karena sangat jelas bahwa revolusi merupakan alternatif pilihan yang tepat. Dengan kekuatan massa yang kuat, terdidik, terpimpin, dan terorganisir. ia menceritakan bagaimana keadaan dizaman soeharto di orde baru. serta bagaimana keadaan saat reformasi mahasiswa pada tahun 98 saat itu. lama kami berbincang-bincang dengannya.

        Diseling obrolan ia bertanya kepada saya, “Kamu suka menulis tidak? Atau kapan nih kamu atau sahabat-sahabat kamu buat buku? Atau setidaknya kalau ada yang punya tulisan, kumpulkan, dan coba kirim ke penerbit atau tuangkan ke blog. Masak gak ada yang suka menulis?” sontak saya merasa tertampar dengan pertanyaan tersebut. Dalam benak saya berkata, “Niat seh ada. Tapi, lha ya sebatas niat, belum bisa terealisasi. Jangankan menulis untuk sebuah buku, menulis sebuah artikel untuk buletin internal saja hanya segelintir sahabat yang rutin melakukannya.” saya hanya bisa tersenyum, dan mengalihkan pembicaraan sampai pada akhir perbincangan kami.

         Disadari atau tidak, menulis memang bukan perkara yang sepele. Itu bukan suatu hal yang mudah bukan pula suatu hal yang sulit. Sebegitu pentingkah budaya tulis ini kita budayakan di dalam organisasi kita? Seberapa banyak pula di antara kita yang sudah memulai dan membiasakan budaya tulis ini? Ataukah jangan-jangan kita masih melanggengkan budaya lisan dari jaman feodal? Kalau pun itu yang terjadi, maka kelak yang ada hanyalah pendongeng dan pendengar cerita.

          Saat saya jalan-jalan
membaca-baca artikel melalui internet ke mbah google. Kalau kita menilik sebentar ke jaman kolonial, munculnya organisasi pergerakan nasional berangkat dari sebuah perjuangan melalui media massa. Adalah RM Tirto Adi Soerjo inilah sosok “Sang Pemula dan Pembaharu” dalam pergerakan di Indonesia yang berani menelanjangi kebijakan pemerintahan Belanda yang begitu menyengsarakan rakyat melalui media terbitannya: Medan Prijaji. Pada waktu itu organisasi belum menjadi alat perjuangan karena kesadaran massa rakyat akan perlunya sebuah organisasi sangat minim sekali. Hal ikhwal yang bisa dilakukan dalam melakukan perubahan adalah melalui tulisan. Media massa menjadi alat untuk menumbuhkan kesadaran massa.

         Seandainya para pemikir revolusioner dunia yang mempunyai harapan akan perubahan manusia dari sebuah ketertindasan tak pernah menuliskan hasil pemikirannya, niscaya penghisapan manusia atas manusia akan terus bercokol. Darimana kita akan tahu ide-ide revolusioner Marx atau pemikiran gemilang Tan Malaka jika kita tidak pernah membaca karya besar mereka tentang perubahan. Mereka tahu bahwa warisan wacana yang progresif revolusioner tidak hanya bisa dilakukan dengan berorasi dan berkata-kata. Satu hal yang bisa melanggengkan wacana atau ide-ide atas perubahan itu tadi; yaitu dengan menuliskannya. Ialah yang akan terus-menerus berteriak lantang dan menggugah kesadaran individu yang membacanya.

       Dalam sebuah diskusi di warung kopi bersama seorang kawan, saya pernah menanyakan, “Kenapa ya kawan-kawan atau kitalah – minimal – jarang sekali menulis sebuah artikel yang kemudian dikirim ke media sebagai counter culture wacana media yang didominasi wacana-wacana elitis? Padahal kita sering berdiskusi, kita selalu melakukan sitnas, kita juga pernah mengadakan pelatihan jurnalistik, tetapi kenapa masih saja kita belum mampu?” Kemudian dia menjawab, “Sebenarnya hal ini sudah dilakukan oleh kawan-kawan, walaupun tidak semuanya, karena semua kembali ke individu masing-masing anggota.” Pernah juga pertanyaan serupa saya tanyakan pada seorang sahabat yang cukup peduli dengan wacana-wacana budaya dan sastra, dia menjawab, “Memang beginilah adanya. Budaya ini masih lemah sekali ditingkatan kita. Adanya kendala yang beragam atau mungkin terlalu sibuk dengan kerja-kerja organisasi. Sepertinya memang harus kita rintis”

            Dari pertanyaan yang saya lontarkan tadi, tidak ada satu pun jawaban yang cukup melegakan. Sampai saat ini pertanyaan saya tadi masih terus bergeming di dalam otak. Saya cukup merasa resah. Benarkah budaya tulis ini sebegitu parahnya sehingga belum mampu membudaya di tingkatan kita? Bagaimana kita bisa lentur melakukan proses agitasi dan propaganda melalui media tulis jika diksi dan pemakaian gaya bahasa sebagai rangsangan simpati massa jarang kita latih? Tentu saja hal ini berdampak pada kemiskinan perbendaharaan kata, kekeringan makna, tidak adanya persuasif dan sugesti dalam propaganda tulisan yang kita buat.

           Di tengah kehebatan kapitalisme hari ini yang mampu menciptakan kontrol baru dengan teknologi informasi yang diciptakannya, sebenarnya menjadi peluang bagi kita untuk membuat media-media baru sebagai alternativ untuk menyebarkan gagasan-gagasan revolusioner. Di internet semisal, menjamurnya blog-blog/situs pribadi bisa dijadikan media untuk mengasah kemampuan menulis kita. Media inilah yang harus kita jadikan budaya baru dalam proses transformasi nilai.

            “Memang seharusnya seperti itu, bro,” celetuk seorang kawan anggota ketika saya kopi darat bersama sahabat saya, "Tapi sayangnya, banyak yang lebih suka “nampang” ria dengan pose-pose genit dan sok dramatis di FB / BBM daripada nge-blog. Parahnya lagi gan...boro-boro untuk chat, email, buat FB atau blog, nge-Net aja banyak yang gaptek, kok. Gimana mau melawan kapitalisme, hah?!" lontaran ketus itu membuat saya tertawa kecut. Saya tak mampu berkomentar. Saya cuma bisa membalas, “Ha..ha..ha...”

          Secangkir kopi kental pahit dan sebungkus rokok surya telah habis mengantar saya menyelesaikan tulisan ini. Saya tafakur sembari mencoba merefleksikan kembali dinamika yang saya alami selama 3 tahun di organisasi bersama sahabat-sahabat. Apa saja yang telah saya peroleh dan saya berikan untuk organisasi? Catatan-catatan apa yang pernah saya torehkan di organisasi? Di akhir tafakur, saya tersadar dan mengambil kesimpulan kecil, bahwa memang budaya tulis ini harus kita rintis. Bagaimana kita akan mampu bertutur tentang sejarah organisasi kita kepada benih-benih baru jika kita tidak menuliskannya? Karena kelak suatu waktu mulut kita pasti bungkam dan tak bisa berkata-kata lagi. Jangan sampai kita hanya menjadi seorang pendongeng dan pendengar cerita saja. Bilamana itu terjadi, bagaimana harapan dan impian di hari depan bisa kita raih?

         * Semoga tulisan ini bisa menyadarkan kita semua akan pentingnya menulis.

1 komentar:

  1. Kunbal yaa http://manfaatfilsafat.blogspot.co.id/2016/10/keberkahan-mengentaskan-kemiskinan.html

    BalasHapus