Menjadi Mahasiswa; Pragmatis atau Idealis ?
Oleh : Khumaidullah Irfan (Ipank)
Oleh : Khumaidullah Irfan (Ipank)
“Mahasiswa adalah Agen Of Change”
Pragmatis dan Idealis, dua hal
yang sangat sensitif sekali kita bicarakan, Sebuah gejolak rasa yang pasti
setiap mahasiswa mengalaminya, tak lepas dari siapakah mahasiswa itu dan
darimanakah mahasiswa itu, entah dia seorang anak petani maupun anak seorang
priyai, Ketika mendengar kata itu apa yang ada di benak sahabat-sahabat? mungkin
jawabannya adalah “I had to select which and how??” so pasti disadari atau
tidak kita akan dihantui oleh kegalauan, seperti Chairil Anwar dalam puisinya;
hidup adalah pilihan “Life is Choise” begitulah katanya, lalu kita
sebagai mahasiswa harus bagaimana? Menjadi mahasiswa yang Pragmatis kah? atau
Idealis ? apakah mungkin dua-duanya saja? Sebentar gan, sebelum kita bahas, alangkah
baiknya mungkin kita fahami dulu, Whats is This “Pragmatis” ? And What is
This “Idealis” ?, buat sahabat-sahabat yang sudah faham sabar dulu, buat
yang belum faham yuk mari kita kupas dan bahas bersama.
Membicarakan Idealisme dan
Pragmatisme mahasiswa, rasanya kurang
“sahih"
bila kita tidak membahas esensi dari idealisme maupun pragmatisme itu sendiri.
Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI),2008. telah gamblang
disebutkan bahwa Idealisme adalah sebuah bentuk penjelmaan
norma-norma dasar yang bersifat luhur, dalam prinsip-prinsip dasar yang di
pegang seorang manusia. Dari sini, jelaslah bahwa idealisme tidak terikat dengan
oleh variabel waktu akan tetapi didapatkan secara continue lewat interaksi kita
dengan lingkungan bedasarkan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya.
Prinsip-prinsip tersebut akan digunakan sebagai alat “benchmarking” terhadap
apa yang dihadapinya sehari-hari, sehingga ia tidak mudah dipengaruhi untuk mengikuti arus.
Sedangkan Pragmatisme adalah
sebuah bentuk krakter yang cenderung mengutamakan segi praktis dan instan, baik dan buruknya
sesuatu ditentukan dengan kebermanfaatannya, baik bila menghasilkan keuntungan
yang besar dan buruk bila merugikan. Seorang yang Pragmatis cenderung bersifat
“profit hunter” dan mengabaikan proses untuk mendapatkan profit tersebut.
Bahkan dalam prosesnya terkadang menabrak norma-norma yang telah ada.
Begitulah kira nya tentang
pengertian Pragmatis dan Idealis
menurut saya sahabat. Lalu kita sebagai mahasiswa harus
jadi Pragmatis atau idealis?,
Pernahkah
anda mendengar istilah kata “Trade-off”, simplenya gini, kadang kita sebagai
manusia ada kalanya dihadapkan pada situasi dimana apabila kita memilih suatu
hal, kita harus kehilangan kesempatan untuk memilih hal lain. Apabila kita menginginkan A, kita harus
mengorbankan B. begitulah gambaran sebuah pilihan atau kita sebut trade-off,
kita harus memilih.
Lantas bagaimana situasi itu
diterapkan ke dalam konteks idealisme dan pragatisme mahasiswa masa kini?
Apakah kedua hal tersebut juga merupakan sebuah trade-off ? dimana
mahasiswa yang idealis tak bisa menjadi pragmatis, dan sebaliknya?
Beberapa orang emang
mengkontradiksikan sikap idealis dengan sikap pragmatis. Mereka berpendapat
bahwa pesatnya kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi membuat
mahasiswa jaman sekarang cenderung lebih pragmatis, sehingga keberadaan
mahasiswa idealis bagaikan spesies yang langka lho. Mereka cenderung lebih
menginginkan sesuatu dengan cara yang
instan dengan mengedepankan hasrat untuk hidup cari aman, mentargetkan lulus kuliah cepat tanpa
memikirkan temannya yang bermasalah dalam kuliahnya, berusaha belajar sendiri
berharap agar mendapat IPK tinggi, menjadi budak dosen agar diberi nilai yang
bagus, dan mengantongi berbagai sertifikat dari berbagai momen-momen yang
bilangnya sih supaya dapat wawasan dan pengalaman tapi ujung-ujungnya buat
koleksi dan pamer ke teman-teman. Setelah lulus nanti berharap dengan masa
depan yang cerah bekerja di sebuah perusahaan yang ber-lebel “Elite” agar bergengsi
dan dapet gaji tinggi, ditambah lagi apabila ada sebuah tawaran-tawaran bisnis
“Kucing-kucingan” yang mengiming-imingi sebuah prospek yang cerah agar bisa
kaya diusia muda yang ujung-ujungnya sih bisnisnya jualan sendal, pakaian, dan
obat-obatan, biar agak keren dikemas dengan bahasa sok ke-inggris-an “Online
Shop” atau ada istilah buat para membernya ada “Downline” dan “Upline” mereka
pasang produk nya dengan gambar dan model-model yang keren agar terlihat
menarik, setelah dilihat barang
aslinya tak jauh beda dengan produk yang ada di Pasar
Tegalgubug*. Bagaimana mereka peka dengan isu-isu dan permasalahan sosial
sedangkan mereka sibuk dengan urusan individualisnya masing-masing.
Saya teringat dengan pernyataan
seorang(dirahasiakan) sebut saja Mr. Bacot al-cocot : “Mahasiswa kerjanya demo, kritik,
menyalahkan pemerintah, selebihnya Nol !. buat apa demo di jalanan siang terik
hingga kulit terbakar, berkoar-koar sampai suara serak. Buat apa kalian masih
setia memikirkan perut rakyat, kalian dapat apa? Buat makan sendiri aja susah,
sok memikirkan dan mengurusi permasalahan bangsa, semua kan sudah diurus oleh Negara.
Sebagai Mahasiswa, kuliah saja yang bener biar cepat lulus, lalu bekerja di
perusahaan dengan gaji yang tinggi terus hidup sejahtera.. ”.
Mengingat pernyataan tersebut jadi ingat ketika saya menjadi mahasiswa baru, saya diam-diam mengawasi situasi
dan kondisi di kampus saya sebut
saja “Kampus Agama”, hasilnya yang saya temui saat awal pendaftaran mahasiswa
sudah digiring untuk menjadi pragmatis, ketika pendaftaran ada pembayaran
dengan embel-embel “Infaq” dimana disitu ada sebuah pilihan nominal uang yang
harus di infaq an, bila kita bayar yang lebih besar nominalnya maka besar
harapannya untuk bisa di terima
(katanya). Begitupun ketika dikumpulkan dilapangan depan
rektorat saat taaruf, tak jarang pejabat-pejabat kampus menggembor-gemborkan mahasiswa agar
berprestasi secara akademik, dengan
belajar sesuai kurikulum kampus agar mendapat nilai IPK tinggi, sehingga kelak lulus
kamu bisa bekerja dengan baik, mencapai karir yang tinggi. tak jarang pula
mereka pun menghina yang berdemo, mengatai yang suka demo nilainya jelek,
mengecewakan orang tua, tak ada prestasi yang dibanggakan selain demo, tidak
berguna dan pandangan negatif lainnya.
Apabila benar demikian adanya,
hal itu sangat disayangkan, karena mahasiswa pada hakikatnya mengemban predikat besar
sebagai “Agen of change”, yang katanya ditangan kita tergenggam arah bangsa. Sahabat ingat kan tragedi 17 tahun yang lalu
itu? Stabilitas dan kondusifitas negara berada ditangan mahasiswa. Namun mahasiswa zaman sekarang sudah acuh tak acuh terhadap lingkungan
sekitar dan lebih mengedepankan egoisme mereka. Mereka sudah terlena dengan
pengalihan maindsetnya oleh oknum-oknum yang berkepentingan. Menjadikan
mahasiswa yang konsumtif bukan produktif. sehingga kepekaan terhadap isu-isu
dan masalah sosial menjadi terpinggirkan. Lain hal nya dengan mahasiswa
Idealis.
Kembali ke permasalahan. Pragmatis atau Idealis
sebenarnya hanya masalah klise. Lantas apakah menjadi pragmatis itu buruk?
Apakah menjadi idealis lebih baik?. Oke. Saya tarik benang merah dari awal paragraf,
Menurut sahabat-sahabat, Apa sih yang muncul dibenak sahabat jika mendengar orang yang idealis? Apakah terlintas
dipikiran kita bahwa orang yang idealis adalah orang yang selalu berpegang
teguh dengan apa yang sudah menjadi prinsipnya? Apakah seorang idealis adalah
orang yang tidak bisa diajak kompromi bahkan selalu ingin menang jika sedang
dalam forum diskusi?
Lalu bagaimana dengan seorang
yang pragmatis? Apakah kita berfikir
bahwa seorang pragmatis adalah seorang yang cenderung tidak memikirkan proses
namun hasil akhir? Contoh, Pernakah anda melihat mahasiswa curang dalam ujian? Apa yang ada di
dalam pikiran mahasiswa tersebut ketika melakukan kecurangan pada saat ujian?
Tentunya dia ingin mendapat kan nilai “A” atau “Besar” seperti temannya yang sudah
belajar bersungguh-sungguh, namun tanpa usaha seperti temannya yang sudah
belajar tersebut. Atau dia membuka hanphone nya lalu searching di
google.
Beberapa pertanyaan diatas adalah benang merahnya. Alhasil Mahasiswa yang
menganut paham idealisme dan pragmatisme mempunyai kesan yang negatif. Jika mahasiswa idealis adalah
orang yang kaku, sedangkan kalau mahasiswa pragmatis cenderung tidak mempunyai
prinsip dan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Lalu apa yang harus dilakukan kita sebagai
mahasiswa di zaman modern disaat semua fasilitas tersedia? Pragmatis atau idealis?
Menjadi mahasiswa idealis ataupun
pragmatis adalah dua hal yang harus kita pilih. Mengapa harus keduanya?
Mengapa tidak salah satu saja? Jawabannya sederhana sahabat, segala sesuatu
di dunia ini selalu ada sisi positif dan negatifnya. So, yang harus kita
lakukan adalah menjadi Mahasiswa yang Idealis dan Pragmatis.
Bersikap
“Pragmatis” terhadap hal-hal yang bisa mengganggu perkuliahan dan kegiatan kita sehari-hari dengan mampu melihat sebab akibat terhadap apa yang akan kita lakukan. Jika menimbulkan akibat
yang baik untuk kita dan
sahabat-sahabat, maka lakukanlah.
Namun kita juga harus menjadi “Idealis” ketika hal tersebut dapat menimbulkan akibat
yang buruk untuk semuanya dan katakan tidak. Jadilah
mahasiswa yang “fleksibel” terhadap perubahan di sekitar lingkungan kita termasuk di era globalisasi ini dengan segala
kemudahannya, namun memang mungkin menjadi kaku ketika ada hal yang
bertentangan dengan prinsip kita. Jangan mengedepankan ego dengan segala
ide-ide kita, tetapi tetap fleksibel terhadap perubahan-perubahan itu. Salam Pergerakan !

Lalu, mahasiswa Kupu2 itu termasuk Idealis apa pragmatis? Hehee
BalasHapusLalu mahasiswa yang menurut anda itu baik seperti apa ? ��
BalasHapusLalu mahasiswa yang menurut anda itu baik seperti apa ? ��
BalasHapusjadi diri sendiri.. klasifikasi baik itu relatif.. bagaimana menurut anda? :)
BalasHapuskunbal yaa http://manfaatfilsafat.blogspot.co.id/2016/10/keberkahan-mengentaskan-kemiskinan.html
BalasHapusCakep tad ... Jos... #jempol
BalasHapus