Rabu, 14 Oktober 2015

Menjadi Mahasiswa



Menjadi Mahasiswa; Pragmatis atau Idealis ?
Oleh : Khumaidullah Irfan (Ipank)


“Mahasiswa adalah Agen Of Change”
               Pragmatis dan Idealis, dua hal yang sangat sensitif sekali kita bicarakan, Sebuah gejolak rasa yang pasti setiap mahasiswa mengalaminya, tak lepas dari siapakah mahasiswa itu dan darimanakah mahasiswa itu, entah dia seorang anak petani maupun anak seorang priyai, Ketika mendengar kata itu apa yang ada di benak sahabat-sahabat? mungkin jawabannya adalah “I had to select which and how??” so pasti disadari atau tidak kita akan dihantui oleh kegalauan, seperti Chairil Anwar dalam puisinya; hidup adalah pilihan “Life is Choise” begitulah katanya, lalu kita sebagai mahasiswa harus bagaimana? Menjadi mahasiswa yang Pragmatis kah? atau Idealis ? apakah mungkin dua-duanya saja? Sebentar gan, sebelum kita bahas, alangkah baiknya mungkin kita fahami dulu, Whats is This “Pragmatis” ? And What is This “Idealis” ?, buat sahabat-sahabat yang sudah faham sabar dulu, buat yang belum faham yuk mari kita kupas dan bahas bersama.
               Membicarakan Idealisme dan Pragmatisme mahasiswa, rasanya kurang “sahih" bila kita tidak membahas esensi dari idealisme maupun pragmatisme itu sendiri. Dalam buku Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI),2008. telah gamblang disebutkan bahwa Idealisme adalah sebuah bentuk penjelmaan norma-norma dasar yang bersifat luhur, dalam prinsip-prinsip dasar yang di pegang seorang manusia. Dari sini, jelaslah bahwa idealisme tidak terikat dengan oleh variabel waktu akan tetapi didapatkan secara continue lewat interaksi kita dengan lingkungan bedasarkan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya. Prinsip-prinsip tersebut akan digunakan sebagai alat “benchmarking” terhadap apa yang dihadapinya sehari-hari, sehingga ia tidak mudah dipengaruhi untuk mengikuti arus.
               Sedangkan Pragmatisme adalah sebuah bentuk krakter yang cenderung mengutamakan segi praktis dan instan, baik dan buruknya sesuatu ditentukan dengan kebermanfaatannya, baik bila menghasilkan keuntungan yang besar dan buruk bila merugikan. Seorang yang Pragmatis cenderung bersifat “profit hunter” dan mengabaikan proses untuk mendapatkan profit tersebut. Bahkan dalam prosesnya terkadang menabrak norma-norma yang telah ada.
               Begitulah kira nya tentang pengertian Pragmatis dan Idealis menurut saya sahabat. Lalu kita sebagai mahasiswa harus jadi Pragmatis atau idealis?,
Pernahkah anda mendengar istilah kata “Trade-off”, simplenya gini, kadang kita sebagai manusia ada kalanya dihadapkan pada situasi dimana apabila kita memilih suatu hal, kita harus kehilangan kesempatan untuk memilih hal lain. Apabila kita menginginkan A, kita harus mengorbankan B. begitulah gambaran sebuah pilihan atau kita sebut trade-off, kita harus memilih.
               Lantas bagaimana situasi itu diterapkan ke dalam konteks idealisme dan pragatisme mahasiswa masa kini? Apakah kedua hal tersebut juga merupakan sebuah trade-off ? dimana mahasiswa yang idealis tak bisa menjadi pragmatis, dan sebaliknya?
               Beberapa orang emang mengkontradiksikan sikap idealis dengan sikap pragmatis. Mereka berpendapat bahwa pesatnya kemajuan teknologi dan derasnya arus globalisasi membuat mahasiswa jaman sekarang cenderung lebih pragmatis, sehingga keberadaan mahasiswa idealis bagaikan spesies yang langka lho. Mereka cenderung lebih menginginkan sesuatu dengan cara yang instan dengan mengedepankan hasrat untuk hidup cari aman, mentargetkan lulus kuliah cepat tanpa memikirkan temannya yang bermasalah dalam kuliahnya, berusaha belajar sendiri berharap agar mendapat IPK tinggi, menjadi budak dosen agar diberi nilai yang bagus, dan mengantongi berbagai sertifikat dari berbagai momen-momen yang bilangnya sih supaya dapat wawasan dan pengalaman tapi ujung-ujungnya buat koleksi dan pamer ke teman-teman. Setelah lulus nanti berharap dengan masa depan yang cerah bekerja di sebuah perusahaan yang ber-lebel “Elite” agar bergengsi dan dapet gaji tinggi, ditambah lagi apabila ada sebuah tawaran-tawaran bisnis “Kucing-kucingan” yang mengiming-imingi sebuah prospek yang cerah agar bisa kaya diusia muda yang ujung-ujungnya sih bisnisnya jualan sendal, pakaian, dan obat-obatan, biar agak keren dikemas dengan bahasa sok ke-inggris-an “Online Shop” atau ada istilah buat para membernya ada “Downline” dan “Upline” mereka pasang produk nya dengan gambar dan model-model yang keren agar terlihat menarik, setelah dilihat barang aslinya tak jauh beda dengan produk yang ada di Pasar Tegalgubug*. Bagaimana mereka peka dengan isu-isu dan permasalahan sosial sedangkan mereka sibuk dengan urusan individualisnya masing-masing.
               Saya teringat dengan pernyataan seorang(dirahasiakan) sebut saja Mr. Bacot al-cocot : “Mahasiswa kerjanya demo, kritik, menyalahkan pemerintah, selebihnya Nol !. buat apa demo di jalanan siang terik hingga kulit terbakar, berkoar-koar sampai suara serak. Buat apa kalian masih setia memikirkan perut rakyat, kalian dapat apa? Buat makan sendiri aja susah, sok memikirkan dan mengurusi permasalahan bangsa, semua kan sudah diurus oleh Negara. Sebagai Mahasiswa, kuliah saja yang bener biar cepat lulus, lalu bekerja di perusahaan dengan gaji yang tinggi terus hidup sejahtera.. ”.
               Mengingat pernyataan tersebut jadi ingat ketika saya menjadi mahasiswa baru, saya diam-diam mengawasi situasi dan kondisi di kampus saya sebut saja “Kampus Agama”, hasilnya yang saya temui saat awal pendaftaran mahasiswa sudah digiring untuk menjadi pragmatis, ketika pendaftaran ada pembayaran dengan embel-embel “Infaq” dimana disitu ada sebuah pilihan nominal uang yang harus di infaq an, bila kita bayar yang lebih besar nominalnya maka besar harapannya untuk bisa di terima (katanya). Begitupun ketika dikumpulkan dilapangan depan rektorat saat taaruf, tak jarang pejabat-pejabat kampus menggembor-gemborkan mahasiswa agar berprestasi secara akademik, dengan belajar sesuai kurikulum kampus agar mendapat nilai IPK tinggi, sehingga kelak lulus kamu bisa bekerja dengan baik,  mencapai karir yang tinggi. tak jarang pula mereka pun menghina yang berdemo, mengatai yang suka demo nilainya jelek, mengecewakan orang tua, tak ada prestasi yang dibanggakan selain demo, tidak berguna dan pandangan negatif lainnya.
               Apabila benar demikian adanya, hal itu sangat disayangkan, karena mahasiswa   pada hakikatnya mengemban predikat besar sebagai “Agen of change”, yang katanya ditangan kita tergenggam arah bangsa. Sahabat ingat kan tragedi 17 tahun yang lalu itu? Stabilitas dan kondusifitas negara berada ditangan mahasiswa. Namun mahasiswa zaman sekarang sudah acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar dan lebih mengedepankan egoisme mereka. Mereka sudah terlena dengan pengalihan maindsetnya oleh oknum-oknum yang berkepentingan. Menjadikan mahasiswa yang konsumtif bukan produktif. sehingga kepekaan terhadap isu-isu dan masalah sosial menjadi terpinggirkan. Lain hal nya dengan mahasiswa Idealis.
               Kembali ke permasalahan. Pragmatis atau Idealis sebenarnya hanya masalah klise. Lantas apakah menjadi pragmatis itu buruk? Apakah menjadi idealis lebih baik?. Oke. Saya tarik benang merah dari awal paragraf, Menurut sahabat-sahabat, Apa sih yang muncul dibenak sahabat jika mendengar orang yang idealis? Apakah terlintas dipikiran kita bahwa orang yang idealis adalah orang yang selalu berpegang teguh dengan apa yang sudah menjadi prinsipnya? Apakah seorang idealis adalah orang yang tidak bisa diajak kompromi bahkan selalu ingin menang jika sedang dalam forum diskusi?
               Lalu bagaimana dengan seorang yang pragmatis? Apakah kita berfikir bahwa seorang pragmatis adalah seorang yang cenderung tidak memikirkan proses namun hasil akhir? Contoh, Pernakah anda melihat mahasiswa curang dalam ujian? Apa yang ada di dalam pikiran mahasiswa tersebut ketika melakukan kecurangan pada saat ujian? Tentunya dia ingin mendapat kan nilai “A” atau “Besar” seperti temannya yang sudah belajar bersungguh-sungguh, namun tanpa usaha seperti temannya yang sudah belajar tersebut. Atau dia membuka hanphone nya lalu searching di google.
               Beberapa pertanyaan diatas adalah benang merahnya. Alhasil Mahasiswa yang menganut paham idealisme dan pragmatisme mempunyai kesan yang negatif. Jika mahasiswa idealis adalah orang yang kaku, sedangkan kalau mahasiswa pragmatis cenderung tidak mempunyai prinsip dan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya.
                Lalu apa yang harus dilakukan kita sebagai mahasiswa di zaman modern disaat semua fasilitas tersedia? Pragmatis atau idealis?
               Menjadi mahasiswa idealis ataupun pragmatis adalah dua hal yang harus kita pilih. Mengapa harus keduanya? Mengapa tidak salah satu saja? Jawabannya sederhana sahabat, segala sesuatu di dunia ini selalu ada sisi positif dan negatifnya. So, yang harus kita lakukan adalah menjadi Mahasiswa yang Idealis dan Pragmatis.
               Bersikap “Pragmatis” terhadap hal-hal yang bisa mengganggu perkuliahan dan kegiatan kita sehari-hari dengan mampu melihat sebab akibat terhadap apa yang akan kita lakukan. Jika menimbulkan akibat yang baik untuk kita dan sahabat-sahabat, maka lakukanlah. Namun kita juga harus menjadi “Idealis” ketika hal tersebut dapat menimbulkan akibat yang buruk untuk semuanya dan katakan tidak. Jadilah mahasiswa yang fleksibel terhadap perubahan di sekitar lingkungan kita termasuk di era globalisasi ini dengan segala kemudahannya, namun memang mungkin menjadi kaku ketika ada hal yang bertentangan dengan prinsip kita. Jangan mengedepankan ego dengan segala ide-ide kita, tetapi tetap fleksibel terhadap perubahan-perubahan itu. Salam Pergerakan !

6 komentar:

  1. Lalu, mahasiswa Kupu2 itu termasuk Idealis apa pragmatis? Hehee

    BalasHapus
  2. Lalu mahasiswa yang menurut anda itu baik seperti apa ? ��

    BalasHapus
  3. Lalu mahasiswa yang menurut anda itu baik seperti apa ? ��

    BalasHapus
  4. jadi diri sendiri.. klasifikasi baik itu relatif.. bagaimana menurut anda? :)

    BalasHapus
  5. kunbal yaa http://manfaatfilsafat.blogspot.co.id/2016/10/keberkahan-mengentaskan-kemiskinan.html

    BalasHapus